Halaman

Senin, 26 Mei 2014

Rumahku, home or house ??


“Ma, nanti kalau aku dan adik sudah lulus kuliah, kita renovasi rumah kita, ya.” 

 Kata ku kepada mama yang sedang mendengarkan permintaan putrinya di ujung telfon. Sambil tertawa mama menjawabku, “Iya sayang, berdoa saja biar kita dapat rejeki.”
 Mendengar jawaban mama imajinasiku melayang dan membayangkan sebuah rumah impian, sebuah rumah yang selama ini selalu aku dambakan.
Lamunanku akan rumah impian seketika buyar saat Rika, adikku masuk ke kamar.  Dia 2 tahun lebih muda dari aku, dan kini kami tinggal bersama di satu kamar kost di salah satu kota besar di Jawa Tengah.
 “Telfon sama siapa tadi?” Tanya Rika dengan gayanya yang cuek.
“Sama mama.” Jawabku singkat, tanpa berpaling dari telefon genggamku yang sedang ku mainkan.
“Ngobrol apa sama mama?”
“Ngobrolin rumah.”
“Emang rumah kita kenapa?”
“Ngga kenapa-kenapa kok, aku cuma bilang ke mama, nanti kalo kita udah selesai kuliah, rumah kita di renovasi, kan mama ngga ngirimin kita uang bulanan lagi, jadi uangnya bisa buat renovasi rumah.”
            Sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah. Sesekali kurasakan rindu yang teramat dalam akan hari-hariku saat aku masih tinggal di rumah bersama semua anggota keluargaku. Saat mama membangunkanku di pagi hari, membuatkan kami sarapan sebelum berangkat sekolah, saat mama dengan sabarnya mendengarkan cerita gadis kecilnya yang sedang jatuh cinta, saat aku, adik, abang dan kedua orang tuaku berkumpul di malam Natal dan Tahun Baru.
            Hal yang paling aku rindukan di rumah adalah saat kami sekeluarga makan malam bersama. Masakan mama yang spesial selalu membuatnya mendapatkan pujian dari suami dan anak-anaknya. Mama mendapat julukan sebagai koki terhebat sedunia, karena mama selalu memasak dan menyajikan menu masakannya dengan penuh cinta. Masakan mama benar-benar tiada duanya. Aku juga selalu memperhatikan hal unik dari papa. Papa sangat suka makan kerak nasi yang masih hangat, dan selalu ku katakan kepada papa, akan aku ceritakan kepada anak-anakku kelak, bahwa kakek mereka sangat suka makan kerak nasi yang masih hangat. Papa selalu tertawa saat aku menggodanya seperti itu. I love you, Dad.
Keinginan untuk kuliah telah membawaku jauh meninggalkan rumah, meninggalkan pulau Sumatera. Terkadang ada rasa cemburu melihat teman-teman yang pulang ke rumah mereka saat liburan tiba. Aku harus menahan rindu dan mengurungkan niat untuk liburan ke kampung halaman, karena memang tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk pulang menyeberangi lautan.
Aku beruntung aku bisa kuliah bersama adikku di luar pulau. Setidaknya aku masih punya anggota keluarga yang tinggal bersamaku. Sesekali saat sedang ngobrol dengan Rika, ku tanyakan bagaimana sekarang keadaan rumah kami, karena ia yang terakhir meninggalkan rumah. Diceritkannya bahwa tanah kosong di depan rumah tempat kami dulu sering bermain telah dibangun rumah oleh pemiliknya.
“Kalau di tanah kosong itu sudah dibangun rumah, anak-anak tetangga kita bermain dimana?”
“Ya mereka bermain di halaman sekolah yang di dekat rumah kita.”
“Trus, rumah kita sendiri gimana?”
“Sepi”, jawabnya singkat.
            Ada rasa pilu saat membayangkan rumah sederhana berukuran 8 x 6 meter dimana aku dibesarkan selama hampir 16 tahun kini menjadi sepi. Wajar saja memang kalau rumah itu sekarang sepi, berbeda seperti beberapa tahun lalu saat kami semua masih di rumah. Abangku kini telah menikah dan dia tinggal di tempat yang ditetapkan pemerintah untuk bekerja, aku dan adikku menuntut ilmu ke pulau Jawa. Tinggal mama dan papa yang ada di rumah, itu pun hanya di akhir pekan. Sejak aku kuliah mama memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan di kota, jadi mama hanya bisa pulang setiap akhir pekan. Papa, yang mencintai dunia pertanian mengolah lahan pertanian kami dan ia tinggal di rumah, sendirian. Aku tau orang tuaku telah mengambil keputusan yang sulit, tapi aku juga sadar mereka melakukan itu demi masa depan kami, buah hati mereka.
            Bertahun-tahun kini tak ku injakkan kaki di rumahku. Tapi masih terbayang setiap sudut ruangan itu, setiap tempat di rumahku menyimpan cerita dan hangatnya kebersamaan kami di rumah. Ku bayangkan rumahkku yang sekarang dan kubayangkan rumah impianku. Rumah yang sekarang sepi itu sangat sederhana, dan hanya memiliki 2 kamar tidur. 1 kamar untuk orang tuaku, dan yang 1 dengan ukuran lebih kecil adalah kamarku dan kamar adikku. Kamar abangku? Dulu saat aku dan adikku masih kecil, kami tidur bersama orang tua kami. Jadi abangku tidur di kamar yang lebih kecil itu. Saat kami mulai tumbuh remaja, kami, aku dan adikku, menggusur abangku, jadi ia tidur di sofa di ruang keluarga.
            Rumah impianku tentunya lebih baik dari rumahku yang sekarang. Rumah impianku adalah sebuah rumah berlantai dua, 2 kamar di lantai 1 dan 2 kamar di lantai atas, dan ada balkon yang menghadap ke barat. Rumah itu tidak harus mewah, yang penting ada pekarangannya. Jadi rumah itu akan terlihat segar. Di pekarangan akan ada beberapa pohon buah-buahan, dan yang pasti akan ada banyak bunga yang di tanam di pekarangan itu. Pertanyaannya, rumah sebesar itu untuk siapa? Tentu saja untuk orang tuaku.
            Suatu hari ku ceritakan kepada adikku mengenai rumah impian itu.
“Ka, aku punya rumah impian.”
“Rumah impian seperti apa?” Tanya Rika.
“Rumah berlantai dua, 2 kamar di lantai 1 dan 2 kamar di lantai atas, dan ada balkon yang menghadap ke barat, trus ada pekarangannya.” Jelasku bersemangat.
“Lu mau bangun dimana rumah kaya gitu?” Tanya Rika dengan nada tak percaya.
“ Ya beli tanah toh, Neng.”
“Emang menurut elu beli tanah itu gampang, duit dari mana?” jawab Rika masih dengan nada tak percaya.
“Kan rumah yang sekarang itu kalau mau di renovasi juga susah, di depannya juga udah di bangun rumah. Jadi kita bilang mama aja, biar rumah itu di jual, terus kita beli tanah yang memungkinkan untuk di bangun rumah kaya rumah impianku itu”. Kataku sambil membayangkan rumah impianku itu.
“Astaga, lagian buat apa rumah se-gede itu? Toh nanti kita udah berkeluarga dan orang tua kita cuma tinggal berdua.”
“Ya justru karena kita udah berkeluarga. Jadi nanti kalo Tahun Baruan kita kumpul keluarga di rumah mama, pasti mama senang liat anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul”. Ceritaku kepada Rika sambil membayangkan masa depan.
“Tapi ngga mesti jual rumah kita yang sekarang juga kali, pokoknya aku ngga mau kalo rumah itu sampai di jual, apapun ceritanya. Rumah itu menyimpan sejarah perjalanan keluarga kita selama sekian dekade.” Bantah adikku.
            Sepenting itu kah arti rumah itu baginya, di banding dengan rumah impianku? Aku tak peduli apa kata adikku, rumah impian itu masih tetap menari-nari di imajinasiku. Ku bayangkan rumah impianku di bangun di kampung halamanku yang sejuk, dengan pemandangan gunung yang menjulang tinggi di sebelah timur dan pegunungan Bukit Barisan yang seolah memeluk bahu gunung itu di sebelah timur laut. Ku bayangkan keindahan mentari pagi yang terbit dari balik gunung yang diselimuti awan tipis yang bisa di saksikan dari jendela kamar di lantai atas, dan megahnya matahari jingga saat senja di ufuk barat, yang bisa di nikmati dari balkon yang mengahadap ke arah matahari terbenam. Aku tersenyum dan ku pejamkan mataku menikmati indahnya pemandangan yang menari-nari di imajinasiku.
***

            Ku temukan diriku mulai disibukkan dengan skripsiku. Perkara rumah impian sudah jarang aku pikirkan. Yang ada di pikiranku hanyalah tentang skripsi, skripsi dan skripsi.  Bagaimana skripsiku bisa ku kerjakan dengan maksimal dan hasil yang memuaskan, itu semua cukup menyita waktu dan pikiranku. Sampai suat  ketika di masa-masa jenuhku aku di suguhi satu pertanyaan oleh teman-teman satu organisasiku di kampus . Pertanyaannya sederhana, apa bedanya “home” dengan “house”?
            Secara harafiah kedua kata tersebut bisa diartikan “rumah”. Aku tidak menjawab apa-apa saat aku ditanyai tentang perbedaan kata itu. Tapi itu cukup menggangguku juga. Aku pernah mendengar istilah “home sweet home”, bukan “house sweet house”. Kini aku mengerti, home bukan hanya sekedar bangunan rumah dengan beberapa kamar yang dipenuhi dengan perabotan. Tapi lebih dari itu, home mengandung makna yang lebih luas. Home berbicara tentang keharmonisan, hubungan, kasih sayang dan cinta yang kita dapatkan di rumah, di keluarga kita. Rumah adalah tempat dimana ada orang-orang yang menanti kita dengan penuh kasih sayang saat kita pulang.
            Rumah bisa menjadi house ketika tidak ada keharmonisan di dalamnya. Kasus seperti ini sering disebut dengan istilah “broken home”, bukan “broken house”. Karena yang rusak bukanlah bangunan rumahnya, tetapi hubungan antar anggota keluarga. Dan yang sering kali menjadi korban dari broken home adalah anak-anak. Mereka tidak mendapat kasih sayang di rumah, sehingga mereka “lari” dan mencoba mencari perhatian di luar rumah. Tapi yang mereka dapatkan bukanlah perhatian dan kasih sayang, tapi pergaulan yang buruk dan yang akhirnya menjerumuskan mereka. Anak-anak yang menjadi korban broken home tidak jarang menjadi korban juga dalam pergaulan yang tidak baik.
            Pertanyaan home or house mengingatkanku akan rumahku, ya rumahku yang sekarang, bukan rumah impianku. Ku tanya diriku sendiri apakah rumahku adalah home or house bagiku. Ku ingat senyum dan semangat kedua orang tuaku, ku ingat kembali saat-saat beberapa tahun lalu, saat kami semua masih berkumpul di rumah, saat mama memasakkan kami makanan dengan penuh cinta, saat papa tertawa setiap kali aku menggoda dia tentang kerak nasi yang masih hangat, saat aku, adik dan abangku bersenda gurau bersama, dan 1 hal yang selalu ku ingat, bagaimana orang tuaku mengapresiasi kami anak-anaknya saat kami menjadi juara kelas, dan bagaimana mereka menyemangati kami saat prestasi kami tidak meningkat. Semuanya itu menjawab pertanyaan apakah rumahku home or house bagiku.
            Aku merasakan rindu yang semakin mendalam akan rumahku di saat-saat terakhir penyelesaian skripsiku.  Hampir 4 tahun aku menahan rasa ini, demi mimpi dan cita-cita, demi membanggakan kedua orang tuaku, demi keluargaku yang tercinta. Dengan penuh cinta akan mereka ku selesaikan skripsiku dan sebentar lagi aku akan di wisuda.
            Suatu senja di akhir pekan ku telfon mamaku,
“Ma, aku lulus sidang. Pertengahan bulan Mei aku akan di wisuda.”
“Selamat ya sayang, mama sama papa bangga sama kamu.”
“Iya ma, makasih dukungannya ma. Ma, aku punya permintaan, boleh?”
“Permintaan apa sayang, renovasi rumah kita?” Tanya mamaku sambil menggodaku dan tertawa di ujung telfon.
“Engga ma, selesai wisuda aku pulang ya. I do miss my home.” Kata ku sambil menahan air mata.
“ Iya sayang, nanti kita pulang bareng setelah kamu wisuda.”
“Thankyou mom, I love you.”

 Hanna Meyti Sitepu

Purwokerto, 10 mei '14




Senin, 21 April 2014

Tears in My Smile

You may always see me with my simple sweet smile... :)
Yaaa,, I always ask myself to smile.
Then the world will never know the painful that hurt me so deep.
I hate to keep hiding like this, but that's all that I can do.
Don't ask me why I do it, baby.
You'll never know, you'll never understand.
I've tried to rise up from this hurt painful, but I am too weak.
You'll always see me with my simple sweet smile, no matter it is fake or not.
I just wanna keep smiling through this all.
You used to be my reason for smile and feel so happy.
But know everything is changing.
I hide my tears when I say your name, but the pain in my heart is still the same.
Although I am smile and seem carefree, there is no one who misses you more than me.
I am still  here with my simple sweet smile, struggle in my tears. Hope fully this pain will be shifted with gain and happiness...
Hope fully you'll come to wipe my tears...



Hanna...
Semarang, April 21 2014

Jumat, 28 Maret 2014

Demokrasi....Demam Pesta Rakyat!!!


    Hari ini aku dengan setengah terpaksa membeli sticker dari salah satu mahasiswa di kampusku, katanya sih buat cari dana di event fakultasnya mereka. Pasalnya, aku ga terlalu suka dengan kata-kata di sticker itu. Tapi ada satu sticker, yang aku tak punya alasan untuk tidak menyukainya. Kata-katanya seperti ini "Proud to be Indonesia", ya meskipun tulisan yang benar seharusnya adalah "Proud to be Indonesian". Tapi ya whatever lah, aku tetap bangga menjadi orang Indonesia, biar bagaimanapun keadaan negara ini.

     Indonesia sebagai negara demokrasi, dalam waktu dekat ini akan mengadakan pesta besar, Pesta Rakyat. Pemilihan Legislatif pada 9 April 2014dan di ikuti dengan pemilihan Presiden pada 9 Juli 2014. Spanduk dan baliho dari setiap calon dimana-mana. Wajah-wajah mereka terpampang juga di kalender, kaos, jam dinding, de el el. Ada begitu banyak atribut yang "berserakan" di seantro Tanah Air ini menjelang pesta besar itu. Kampanye dari setiap calon parpol juga berkumandang di tengah-tengah hiruk pikuknya kegiatan masyarakat. Jejaring sosial pun dipenuhi dengan grup-grup pendukung setiap calon. Argghhh,, seperti inikah persiapan menjelang pesta demokrasi itu??

       Sebagai warga Indonesia yang baik, tentunya saya juga berhak mendukung calon yang saya anggap bermutu. Maka dari itu, saya bergabung di forum pendukung salah satu calon presiden melalui jejaring sosial. Awalnya saya tidak terlalu ngeh untuk membaca kiriman-kiriman dari setiap pendukung. Tapi beberapa hari belakangan ini, ada beberapa kiriman-kiriman yang berisikan komentar-komentar miring mengenai calon presiden yang saya dukung tersebut. Memang, hak setiap orang untuk mendukung atau tidak, tapi ini sudah berlebihan menurut saya. Berlebihan seperti apa? Masa nama-nama yang saru (tidak sopan) pada bermunculan di komentar? Ada banyak akun-akun dengan identitas palsu malah memprovokasi calon-calon presiden kita. Kalau tidak suka ya jangan di pilih, gitu aja kok repot!

      Saya baru saja membuka laman group calon yang saya dukung, dan saya menemukan terlalu banyak komentar yang tidak membangun. Yang paling memprihatinkan menurut saya adalah, perdebatan para pendukung dan si pengguna akun palsu yang membawa nama suku-suku di Indonesia, dan memojokkan salah satu suku besar di Indonesia. Lama-lama bisa jadi perang suku ini. Ngga jadi pemilu entar..

        Panas memang hari-hari terakhir menjelang Pesta Demokrasi kali ini. Tapi bagaimana pun, tetap pilih orang yang menurut anda bisa bertanggung jawab memimpin negara ini ke arah yang lebih baik. Jangan terbuai dengan money politic, ya meskipun kita sendiri sadar, terlalu banyak calon pemimpin kita yang menggunakan politik ini. Tidak adil memang, jika yang menang kali ini adalah mereka yang tidak bersih. Tapi bukankah lebih baik hidup di bawah ketidakadilan, daripada berbuat ketidakadilan?
Sahabat bloggers, mari wujudkan pemilu 2014 yang JUJUR dan BERSIH !!!

Semarang, 28 Maret 2014
Hanna

Friendship


Semua orang punya teman, tetapi teman di sekolah/kampus itu berbeda, mereka mengerti kita sama seperti orang tua kita mengerti kita, mereka mengerti kita. Perselisihan, iri, persaingan, semua mewarnai  persahabatan kita. Tak peduli bagaimana semua itu berjalan, itu takkan pernah meredupkan hati.
You all guys, my best friends, have gaven so many colors of my days.
I Love Yous. :*


Rabu, 19 Maret 2014

Cinta dan Sang Waktu Part II

Cinta yang sejati, cinta yang kita kira sudah pergi, ternyata cuma bersembunyi, menunggu waktu untuk kembali.
                                                                               ***
"Eh, elu kenapa? Ko galau gitu?", celotehan yang menjadi salam pembuka dari adikku Tasya sore itu, setelah seharian di jejali materi-materi kuliah yang cukup menguras pikiranku. Aku diam, mengabaikan ocehannya. "Sms lu gak di balas?", tambahnya lagi. "Ngga apa-apa kok, cuma kecapekan aja", jawabku singkat, mencoba mengindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ku harapkan. 

Tasya, adikku yang selama 7 bulan belakangan ini tinggal 1 kost denganku di Semarang, sepertinya mulai menangkap sinyal-sinyal kegalauanku beberapa hari belakangan ini. Sebenarnya sih ga bermaksud untuk galau, cuma kadang aku kurang ahli untuk menyembunyikan kepedihan hatiku, hehe. . Kali ini aku terlalu gengsi untuk curhat sama dia, karena aku nggak mau dia tahu betapa pedihnya hati ini. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di pelukannya beberapa waktu lalu, saat sesuatu hal yang menyakitkan hatiku terjadi. Dia hanya membiarkan aku menangis, sepuasnya. No comment! Belakangan aku tau dari pacarnya, dia benar-benar marah karena aku disakiti, tapi dia ga pernah ungkapkan hal itu kepadaku. 

Hari-hari ini aku mengalami apa yang pernah aku alami sekitar satu tahun lalu, kehilangan. Bedanya, kali ini aku sadar kenapa aku harus merasa kehilangan. Setahun yang lalu, seseorang yang sudah ku kenal dengan cukup baik, dengan setia selalu menemani hari-hariku, tawa dan tangisku. Sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa   bahagianya aku saat itu. Suatu hari, tanpa kata, tanpa alasan, dia menghilang, begitu saja! Aku marah? Ya! Tapi kepada siapa aku harus marah? Aku kecewa? Jelas! Tapi apa gunanya jika aku terus bergelut dengan kekecewaanku. Kulewati masa-masa sulit untuk beradaptasi kembali dengan hari-hari yang ku lalui tanpa hadirnya, seseorang yang terlalu dekat denganku, dan terlalu sakit untuk harus kehilangannya.

Aku pernah membaca  sebuah kalimat yang singkat, kira-kira seperti inilah maknanya. "Ada seseorang dalam hidupmu, jika ia pergi, ia membawa serta sepotong hatimu". Dulu, aku tidak mengerti apa maksud orang yang menuliskan kalimat itu. Tapi kini aku sadar, perkara hati adalah perkara yang paling sensitif. Dengan sangat excited, aku selalu menceritakan kepada adikku seseorang yang memiliki hatiku . Kuceritakan betapa spesialnya dia bagiku, dia, orang yang sekitar setahun lalu pernah sangat dekat denganku, yang menghilang tanpa alasan, dan seperti pencuri ia datang kembali. Ya, seseorang itu datang kembali.

Tapi kali ini dia datang disaat yang tidak tepat. Dia datang saat aku memutuskan melalui tahun ini in celibacy. Dia terlalu berarti, dan tak bisa ku pungkiri, aku bahagia saat ia kembali hadir mewarnai hari-hariku, meski aku sadar ini bukan waktu yang tepat. Ku biarkan ia menuliskan cerita-cerita di hidupku, dan aku menikmati setiap cerita itu. Kami, aku dan dia menuliskan mimpi-mimpi, dan akan kita raih bersama, suatu saat nanti. 

Sesuatu yang diluar harapanku terjadi. Tuhan memintanya kembali dariku. Awalnya aku baik-baik saja. Aku merasa bisa menerima semua ini, karena aku tahu dengan jelas kenapa ini terjadi. Tapi seiring waktu berlalu, kutemukan diriku mulai merasa kehilangan. Kehilangan mungkin bukan kata yang tepat, karena sesungguhnya aku tidak kehilangan. Aku hanya belum boleh memilikinya sekarang. Aku hanya harus menunggu waktu yang tepat, sampai aku benar-benar siap menerima pemberian itu, siap lahir dan batin. Sesekali, ku temukan air mata  basahi pipiku, kala ku ingat bagaimana ia pernah menemani hari-hariku. Apakah kali ini aku masih marah, kecewa?Marah sama siapa? Kecewa sama siapa? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak menyalahkan dirinya, diriku dan juga sang waktu. 

Kubiarkan diriku yang masih sedikit canggung dengan semua ini menikmati hari-hari yang berlalu. Sesekali, kulihat dirinya dari kejauhan, dan aku tersenyum. Ada bagian dalam diriku yang berkata, " Dear, sometimes it's enough for me to know that you're there ". Aku tau cintaku tidak hilang, ia hanya sedang jauh dariku, bersembunyi mungkin, dan ia akan datang kembali, membawa sepotong hatiku, suatu saat nanti, disaat yang tepat. :)


Semarang, 19 Maret 2014

Hanna

Senin, 17 Maret 2014

Saat Asaku Hampir Pupus

Pernah merasa putus asa dan ingin menyerah setelah sekian lama berjuang untuk meraih sesuatu yang sangat kamu dambakan??
Kira-kira perasaan seperti itulah yang ku rasakan sekarang. Hampir 15 tahun aku mengecam dunia pendidikan, aku belum pernah merasa seburuk ini. Sekarang aku semester 6 dalam studiku di sebuah universitas swasta di kota Semarang. Ini merupakan tahun-tahun terakhir aku berada di kampus. 3 tahun di kampus, di kejar-kejar tugas, penelitian dan laporan tak pernah membuatku menyerah.  Hari ini, benteng pertahananku hancur berkeping-keping, runtuh tak berbentuk. Ku tutup pintu kamarku, aku menangis sejadi-jadinya saat aku curhat sama SAHABATKU. Hal yang sederhana sebenarnya dari sudut pandang orang-orang pada umumnya. Tapi ini hal yang paling "menakutkan" bagiku. Kenapa menakutkan?? Biar 'ku ceritakan sedikit mengenai hal "menakutkan" itu. 
Secara peringkat, aku lumayan bagus dalam bidang akademis. Beberapa kali, aku membawa pulang gelar juara umum di SMP dan SMA. Tapi itu tidak cukup untuk membuatku tampil percaya diri di depan publik. Masih kuingat bagaimana aku dipermalukan teman-temanku di depan kelas dalam pelajaran Kesenian waktu di SD. Menyanyi sama sekali bukanlah duniaku, waktu itu setiap anak di wajibkan untuk menyanyikan lagu daerah oleh guru Kesenianku. Dengan terpaksa aku berdiri di depan kelas dan menyumbangkan sebuah lagu. Salah satu anak mulai menertawakanku, karena suaraku fals dan tak bernada. Teman-teman lain mengikuti tingkahnya dan berhasil membuatku menangis. Dan mulai hari itu, sangat sulit bagiku untuk bisa tampil percaya diri di depan kelas. 
Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Siabang-abang dengan nilai yang bagus, mengikuti test untuk masuk SMP,diterima dan  lulus dari SMP N 1 Kuta Buluh dengan nilai terbaik, masih dengan hal yang sama saat masuk dan lulus dari SMA N 1 Payung. 
Aku mulai memikirkan tujuanku di saat-saat terakhir di bangku SMA. Kuliner, hal yang sangat aku senangi disamping kegiatan akademisku. Kusampaikan hal ini kepada orang tuaku, melanjutkan pendidikanku di bidang kuliner. Proposalku tidak diterima. Dari sekolah ada tawaran untuk mendaftar kuliah melalui jalur undangan, yang diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi. Formulir pendaftaran sudah di tanganku, dan wakil kepala sekolahku menyarankan aku untuk memilih program pendidikan, yang kelak akan menjadi guru. Ku bawa  formulir itu pulang, ku ceritakan kepada orang tuaku mengenai tawaran itu. Mereka tidak ada masalah dengan hal itu, tapi hatiku berkata itu bukan duniaku. Keesokan harinya ku kembalikan formulir itu. Sontak, wakil kepala sekolahku kaget dan menganggap aku mulai sinting. Siswa lain berebutan agar bisa mendapatkan formulir yang sangat terbatas, aku malah dengan perasaan tak berdosa mengembalikannya ke pihak sekolah. Alasannya adalah, aku tidak mau menjadi guru!
Dan hari ini, saat masuk mata kuliah TEFL II, dosenku menyampaikan silabus untuk perkuliahan kami selama semester ini. "Okay, guys! You are going to practice your capabilty in teaching at school, not in this class, in front of your friends. So, prepare yourself!"
Begitulah kira-kira wejangan yang disampaikan dosenku hari ini. Jadi kami di suguhi 8 metode pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk di pelajari sendiri, dan kami akan mengajar anak-anak di SD yang sudah ditentukan oleh sang dosen dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut. 
Kelas berakhir, dan aku pulang dengan perasaan yang campur aduk. I hate to be a teacher, especially in Kindergarten and Elementary School! Aku bahkan belum mengerti metode-metode yang diberikan dosenku hari ini. Ku bayangkan anak-anak SD berseragam, dan aku masuk kelas, mencoba merebut segenap perhatian mereka, dan menyampaikan pelajaran. I am absolutely nervous, although just imagine. 
Rasa nervousku berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku sore ini, di kamar kostku yang sepi. Aku, dengan harapan yang sangat besar tidak bertemu mata kuliah micro-teaching, mendaftar sebagai mahasiswa dalam Progran Studi S1 Sastra Inggris, but in fact, aku bahkan tidak bisa mengelak sama sekali dari pelajaran itu.

Semarang, 17 Maret 2014
Hanna