You may always see me with my simple sweet smile... :)
Yaaa,, I always ask myself to smile.
Then the world will never know the painful that hurt me so deep.
I hate to keep hiding like this, but that's all that I can do.
Don't ask me why I do it, baby.
You'll never know, you'll never understand.
I've tried to rise up from this hurt painful, but I am too weak.
You'll always see me with my simple sweet smile, no matter it is fake or not.
I just wanna keep smiling through this all.
You used to be my reason for smile and feel so happy.
But know everything is changing.
I hide my tears when I say your name, but the pain in my heart is still the same.
Although I am smile and seem carefree, there is no one who misses you more than me.
I am still here with my simple sweet smile, struggle in my tears. Hope fully this pain will be shifted with gain and happiness...
Hope fully you'll come to wipe my tears...
Hanna...
Semarang, April 21 2014
Senin, 21 April 2014
Sabtu, 05 April 2014
Jumat, 28 Maret 2014
Demokrasi....Demam Pesta Rakyat!!!
Hari ini aku dengan setengah terpaksa membeli sticker dari salah satu mahasiswa di kampusku, katanya sih buat cari dana di event fakultasnya mereka. Pasalnya, aku ga terlalu suka dengan kata-kata di sticker itu. Tapi ada satu sticker, yang aku tak punya alasan untuk tidak menyukainya. Kata-katanya seperti ini "Proud to be Indonesia", ya meskipun tulisan yang benar seharusnya adalah "Proud to be Indonesian". Tapi ya whatever lah, aku tetap bangga menjadi orang Indonesia, biar bagaimanapun keadaan negara ini.
Indonesia sebagai negara demokrasi, dalam waktu dekat ini akan mengadakan pesta besar, Pesta Rakyat. Pemilihan Legislatif pada 9 April 2014dan di ikuti dengan pemilihan Presiden pada 9 Juli 2014. Spanduk dan baliho dari setiap calon dimana-mana. Wajah-wajah mereka terpampang juga di kalender, kaos, jam dinding, de el el. Ada begitu banyak atribut yang "berserakan" di seantro Tanah Air ini menjelang pesta besar itu. Kampanye dari setiap calon parpol juga berkumandang di tengah-tengah hiruk pikuknya kegiatan masyarakat. Jejaring sosial pun dipenuhi dengan grup-grup pendukung setiap calon. Argghhh,, seperti inikah persiapan menjelang pesta demokrasi itu??
Sebagai warga Indonesia yang baik, tentunya saya juga berhak mendukung calon yang saya anggap bermutu. Maka dari itu, saya bergabung di forum pendukung salah satu calon presiden melalui jejaring sosial. Awalnya saya tidak terlalu ngeh untuk membaca kiriman-kiriman dari setiap pendukung. Tapi beberapa hari belakangan ini, ada beberapa kiriman-kiriman yang berisikan komentar-komentar miring mengenai calon presiden yang saya dukung tersebut. Memang, hak setiap orang untuk mendukung atau tidak, tapi ini sudah berlebihan menurut saya. Berlebihan seperti apa? Masa nama-nama yang saru (tidak sopan) pada bermunculan di komentar? Ada banyak akun-akun dengan identitas palsu malah memprovokasi calon-calon presiden kita. Kalau tidak suka ya jangan di pilih, gitu aja kok repot!
Saya baru saja membuka laman group calon yang saya dukung, dan saya menemukan terlalu banyak komentar yang tidak membangun. Yang paling memprihatinkan menurut saya adalah, perdebatan para pendukung dan si pengguna akun palsu yang membawa nama suku-suku di Indonesia, dan memojokkan salah satu suku besar di Indonesia. Lama-lama bisa jadi perang suku ini. Ngga jadi pemilu entar..
Panas memang hari-hari terakhir menjelang Pesta Demokrasi kali ini. Tapi bagaimana pun, tetap pilih orang yang menurut anda bisa bertanggung jawab memimpin negara ini ke arah yang lebih baik. Jangan terbuai dengan money politic, ya meskipun kita sendiri sadar, terlalu banyak calon pemimpin kita yang menggunakan politik ini. Tidak adil memang, jika yang menang kali ini adalah mereka yang tidak bersih. Tapi bukankah lebih baik hidup di bawah ketidakadilan, daripada berbuat ketidakadilan?
Sahabat bloggers, mari wujudkan pemilu 2014 yang JUJUR dan BERSIH !!!
Semarang, 28 Maret 2014
Hanna
Sebagai warga Indonesia yang baik, tentunya saya juga berhak mendukung calon yang saya anggap bermutu. Maka dari itu, saya bergabung di forum pendukung salah satu calon presiden melalui jejaring sosial. Awalnya saya tidak terlalu ngeh untuk membaca kiriman-kiriman dari setiap pendukung. Tapi beberapa hari belakangan ini, ada beberapa kiriman-kiriman yang berisikan komentar-komentar miring mengenai calon presiden yang saya dukung tersebut. Memang, hak setiap orang untuk mendukung atau tidak, tapi ini sudah berlebihan menurut saya. Berlebihan seperti apa? Masa nama-nama yang saru (tidak sopan) pada bermunculan di komentar? Ada banyak akun-akun dengan identitas palsu malah memprovokasi calon-calon presiden kita. Kalau tidak suka ya jangan di pilih, gitu aja kok repot!
Saya baru saja membuka laman group calon yang saya dukung, dan saya menemukan terlalu banyak komentar yang tidak membangun. Yang paling memprihatinkan menurut saya adalah, perdebatan para pendukung dan si pengguna akun palsu yang membawa nama suku-suku di Indonesia, dan memojokkan salah satu suku besar di Indonesia. Lama-lama bisa jadi perang suku ini. Ngga jadi pemilu entar..
Panas memang hari-hari terakhir menjelang Pesta Demokrasi kali ini. Tapi bagaimana pun, tetap pilih orang yang menurut anda bisa bertanggung jawab memimpin negara ini ke arah yang lebih baik. Jangan terbuai dengan money politic, ya meskipun kita sendiri sadar, terlalu banyak calon pemimpin kita yang menggunakan politik ini. Tidak adil memang, jika yang menang kali ini adalah mereka yang tidak bersih. Tapi bukankah lebih baik hidup di bawah ketidakadilan, daripada berbuat ketidakadilan?
Sahabat bloggers, mari wujudkan pemilu 2014 yang JUJUR dan BERSIH !!!
Semarang, 28 Maret 2014
Hanna
Friendship
Semua orang punya teman, tetapi teman di sekolah/kampus itu berbeda, mereka mengerti kita sama seperti orang tua kita mengerti kita, mereka mengerti kita. Perselisihan, iri, persaingan, semua mewarnai persahabatan kita. Tak peduli bagaimana semua itu berjalan, itu takkan pernah meredupkan hati.
You all guys, my best friends, have gaven so many colors of my days.I Love Yous. :*
Rabu, 19 Maret 2014
Cinta dan Sang Waktu Part II
Cinta yang sejati, cinta yang kita kira sudah pergi, ternyata cuma bersembunyi, menunggu waktu untuk kembali.
***
"Eh, elu kenapa? Ko galau gitu?", celotehan yang menjadi salam pembuka dari adikku Tasya sore itu, setelah seharian di jejali materi-materi kuliah yang cukup menguras pikiranku. Aku diam, mengabaikan ocehannya. "Sms lu gak di balas?", tambahnya lagi. "Ngga apa-apa kok, cuma kecapekan aja", jawabku singkat, mencoba mengindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ku harapkan.
Tasya, adikku yang selama 7 bulan belakangan ini tinggal 1 kost denganku di Semarang, sepertinya mulai menangkap sinyal-sinyal kegalauanku beberapa hari belakangan ini. Sebenarnya sih ga bermaksud untuk galau, cuma kadang aku kurang ahli untuk menyembunyikan kepedihan hatiku, hehe. . Kali ini aku terlalu gengsi untuk curhat sama dia, karena aku nggak mau dia tahu betapa pedihnya hati ini. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di pelukannya beberapa waktu lalu, saat sesuatu hal yang menyakitkan hatiku terjadi. Dia hanya membiarkan aku menangis, sepuasnya. No comment! Belakangan aku tau dari pacarnya, dia benar-benar marah karena aku disakiti, tapi dia ga pernah ungkapkan hal itu kepadaku.
Hari-hari ini aku mengalami apa yang pernah aku alami sekitar satu tahun lalu, kehilangan. Bedanya, kali ini aku sadar kenapa aku harus merasa kehilangan. Setahun yang lalu, seseorang yang sudah ku kenal dengan cukup baik, dengan setia selalu menemani hari-hariku, tawa dan tangisku. Sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa bahagianya aku saat itu. Suatu hari, tanpa kata, tanpa alasan, dia menghilang, begitu saja! Aku marah? Ya! Tapi kepada siapa aku harus marah? Aku kecewa? Jelas! Tapi apa gunanya jika aku terus bergelut dengan kekecewaanku. Kulewati masa-masa sulit untuk beradaptasi kembali dengan hari-hari yang ku lalui tanpa hadirnya, seseorang yang terlalu dekat denganku, dan terlalu sakit untuk harus kehilangannya.
Aku pernah membaca sebuah kalimat yang singkat, kira-kira seperti inilah maknanya. "Ada seseorang dalam hidupmu, jika ia pergi, ia membawa serta sepotong hatimu". Dulu, aku tidak mengerti apa maksud orang yang menuliskan kalimat itu. Tapi kini aku sadar, perkara hati adalah perkara yang paling sensitif. Dengan sangat excited, aku selalu menceritakan kepada adikku seseorang yang memiliki hatiku . Kuceritakan betapa spesialnya dia bagiku, dia, orang yang sekitar setahun lalu pernah sangat dekat denganku, yang menghilang tanpa alasan, dan seperti pencuri ia datang kembali. Ya, seseorang itu datang kembali.
Tapi kali ini dia datang disaat yang tidak tepat. Dia datang saat aku memutuskan melalui tahun ini in celibacy. Dia terlalu berarti, dan tak bisa ku pungkiri, aku bahagia saat ia kembali hadir mewarnai hari-hariku, meski aku sadar ini bukan waktu yang tepat. Ku biarkan ia menuliskan cerita-cerita di hidupku, dan aku menikmati setiap cerita itu. Kami, aku dan dia menuliskan mimpi-mimpi, dan akan kita raih bersama, suatu saat nanti.
Sesuatu yang diluar harapanku terjadi. Tuhan memintanya kembali dariku. Awalnya aku baik-baik saja. Aku merasa bisa menerima semua ini, karena aku tahu dengan jelas kenapa ini terjadi. Tapi seiring waktu berlalu, kutemukan diriku mulai merasa kehilangan. Kehilangan mungkin bukan kata yang tepat, karena sesungguhnya aku tidak kehilangan. Aku hanya belum boleh memilikinya sekarang. Aku hanya harus menunggu waktu yang tepat, sampai aku benar-benar siap menerima pemberian itu, siap lahir dan batin. Sesekali, ku temukan air mata basahi pipiku, kala ku ingat bagaimana ia pernah menemani hari-hariku. Apakah kali ini aku masih marah, kecewa?Marah sama siapa? Kecewa sama siapa? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak menyalahkan dirinya, diriku dan juga sang waktu.
Kubiarkan diriku yang masih sedikit canggung dengan semua ini menikmati hari-hari yang berlalu. Sesekali, kulihat dirinya dari kejauhan, dan aku tersenyum. Ada bagian dalam diriku yang berkata, " Dear, sometimes it's enough for me to know that you're there ". Aku tau cintaku tidak hilang, ia hanya sedang jauh dariku, bersembunyi mungkin, dan ia akan datang kembali, membawa sepotong hatiku, suatu saat nanti, disaat yang tepat. :)
Semarang, 19 Maret 2014
Hanna
Senin, 17 Maret 2014
Saat Asaku Hampir Pupus
Pernah merasa putus asa dan ingin menyerah setelah sekian lama berjuang untuk meraih sesuatu yang sangat kamu dambakan??
Kira-kira perasaan seperti itulah yang ku rasakan sekarang. Hampir 15 tahun aku mengecam dunia pendidikan, aku belum pernah merasa seburuk ini. Sekarang aku semester 6 dalam studiku di sebuah universitas swasta di kota Semarang. Ini merupakan tahun-tahun terakhir aku berada di kampus. 3 tahun di kampus, di kejar-kejar tugas, penelitian dan laporan tak pernah membuatku menyerah. Hari ini, benteng pertahananku hancur berkeping-keping, runtuh tak berbentuk. Ku tutup pintu kamarku, aku menangis sejadi-jadinya saat aku curhat sama SAHABATKU. Hal yang sederhana sebenarnya dari sudut pandang orang-orang pada umumnya. Tapi ini hal yang paling "menakutkan" bagiku. Kenapa menakutkan?? Biar 'ku ceritakan sedikit mengenai hal "menakutkan" itu.
Secara peringkat, aku lumayan bagus dalam bidang akademis. Beberapa kali, aku membawa pulang gelar juara umum di SMP dan SMA. Tapi itu tidak cukup untuk membuatku tampil percaya diri di depan publik. Masih kuingat bagaimana aku dipermalukan teman-temanku di depan kelas dalam pelajaran Kesenian waktu di SD. Menyanyi sama sekali bukanlah duniaku, waktu itu setiap anak di wajibkan untuk menyanyikan lagu daerah oleh guru Kesenianku. Dengan terpaksa aku berdiri di depan kelas dan menyumbangkan sebuah lagu. Salah satu anak mulai menertawakanku, karena suaraku fals dan tak bernada. Teman-teman lain mengikuti tingkahnya dan berhasil membuatku menangis. Dan mulai hari itu, sangat sulit bagiku untuk bisa tampil percaya diri di depan kelas.
Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Siabang-abang dengan nilai yang bagus, mengikuti test untuk masuk SMP,diterima dan lulus dari SMP N 1 Kuta Buluh dengan nilai terbaik, masih dengan hal yang sama saat masuk dan lulus dari SMA N 1 Payung.
Aku mulai memikirkan tujuanku di saat-saat terakhir di bangku SMA. Kuliner, hal yang sangat aku senangi disamping kegiatan akademisku. Kusampaikan hal ini kepada orang tuaku, melanjutkan pendidikanku di bidang kuliner. Proposalku tidak diterima. Dari sekolah ada tawaran untuk mendaftar kuliah melalui jalur undangan, yang diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi. Formulir pendaftaran sudah di tanganku, dan wakil kepala sekolahku menyarankan aku untuk memilih program pendidikan, yang kelak akan menjadi guru. Ku bawa formulir itu pulang, ku ceritakan kepada orang tuaku mengenai tawaran itu. Mereka tidak ada masalah dengan hal itu, tapi hatiku berkata itu bukan duniaku. Keesokan harinya ku kembalikan formulir itu. Sontak, wakil kepala sekolahku kaget dan menganggap aku mulai sinting. Siswa lain berebutan agar bisa mendapatkan formulir yang sangat terbatas, aku malah dengan perasaan tak berdosa mengembalikannya ke pihak sekolah. Alasannya adalah, aku tidak mau menjadi guru!
Dan hari ini, saat masuk mata kuliah TEFL II, dosenku menyampaikan silabus untuk perkuliahan kami selama semester ini. "Okay, guys! You are going to practice your capabilty in teaching at school, not in this class, in front of your friends. So, prepare yourself!"
Begitulah kira-kira wejangan yang disampaikan dosenku hari ini. Jadi kami di suguhi 8 metode pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk di pelajari sendiri, dan kami akan mengajar anak-anak di SD yang sudah ditentukan oleh sang dosen dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut.
Begitulah kira-kira wejangan yang disampaikan dosenku hari ini. Jadi kami di suguhi 8 metode pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk di pelajari sendiri, dan kami akan mengajar anak-anak di SD yang sudah ditentukan oleh sang dosen dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut.
Kelas berakhir, dan aku pulang dengan perasaan yang campur aduk. I hate to be a teacher, especially in Kindergarten and Elementary School! Aku bahkan belum mengerti metode-metode yang diberikan dosenku hari ini. Ku bayangkan anak-anak SD berseragam, dan aku masuk kelas, mencoba merebut segenap perhatian mereka, dan menyampaikan pelajaran. I am absolutely nervous, although just imagine.
Rasa nervousku berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku sore ini, di kamar kostku yang sepi. Aku, dengan harapan yang sangat besar tidak bertemu mata kuliah micro-teaching, mendaftar sebagai mahasiswa dalam Progran Studi S1 Sastra Inggris, but in fact, aku bahkan tidak bisa mengelak sama sekali dari pelajaran itu.
Semarang, 17 Maret 2014
Hanna
Sabtu, 01 Februari 2014
Seni Kehidupan Jalanan
Hari ini aku reunian dengan diriku sendiri dan masa-masa yang telah aku lalui. Di bawah teriknya matahari aku menyusuri jalan Pemuda Semarang, dari Gramedia sampai kostku. Angin yang berhembus kencang menyibak rambutku, membuatku merasa seolah seperti seorang model yang sedang taking picture di tepi pantai. Entah kenapa aku tiba-tiba pengen jalan kaki sepulang dari Gramedia, padahal aku sudah merencanakan untuk naik angkutan umum. Tapi kaki ku membawaku menyusuri jalan-jalan yang dulu sering kulalui, namun satu tahun belakangan ini nyaris tak pernah lagi ku lintasi. Terik matahari menjerang kulitku yang sudah berwarna gelap, namum hatiku cukup bersyukur bisa merasakan panasnya Semarang siang ini, karena lebih dari 2 minggu terakhir ini si bola api raksasa itu enggan "memanasi" kota kami.
Jalan kaki sebenarnya sangat menyenangkan bagiku, namun kadang panas terik membuatku enggan menapak jalanan. Di jalanan aku belajar banyak hal, belajar bersyukur karena kedua kaki ku masih bisa berfungsi dengan baik. Belajar mensyukuri hidup, karena ada begitu banyak orang yang tak seberuntung diriku, dan mereka harus "hidup" di jalanan. Di jalan aku belajar tentang kekejaman sekaligus keindahan dalam hidup ini. Aku menyaksikan orang-orang yang bergantung pada "jalanan" untuk bertahan hidup. Aku melihat tukang sapu di jalan raya, tukang becak, juru parkir, pedangang asongan, pengamen, pengemis, dan masih banyak hal lain yang ku saksikan di jalanan. Aku senang menyusuri jalan saat senja menghampiri, saat matahari sudah terbenam, dan aku tak merasakan panas lagi. Saat malam tiba, aku melihat keindahan yang tak dapat kugambarkan dengan kata-kata, aku senang menyaksikan lampu kota, indahnya warna-warni itu membuatku jatuh cinta, jatuh cinta pada jalan, malam, dan warna-warni lampu kota.
Kuceritkan dulu tentang perjalananku siang hari ini. Aku diam-diam menyukai seni kehidupan jalanan. Aku tersenyum simpul saat bapak tukang becak menawariku untuk menggunakan jasa becaknya. Ahh, bapak itu mengingatkanku pada ayahku. Ayahku bukan seorang tukang becak seperti bapak itu, tapi perjuangan bapak itu menghidupi keluarganya menyadarkanku akan perjuangan ayahku yang tak kenal lelah, demi menyekolahkan kami anak-anaknya. Beberapa langkah setelah melewati si bapak tukang becak aku melihat seorang ibu separuh baya sedang berjualan makanan di trotoar. Perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah, tak peduli panas atau hujan, berjuang demi mendapatkan rupiah. Aku tersenyum getir, teringat waktu aku membantu ibuku jualan di pusat pasar Kabanjahe. Hari semakin terik, perut kosongku keroncongan. Aku memutuskan berhenti dan makan siang di tukang Soto Ayam Surabaya di tepi jalan. Dulu, aku sering makan siang disini dengan teman-teman kuliahku, waktu kampusku masih berdiri megah di kawasan elit jalan Pemuda. Tapi sekarang kampusku pindah beberapa ratus meter ke arah timur, dan tak jarang aku bolos kuliah saat musim hujan tiba, karena kampusku banjir. Miris sekali!
Ibu tukang soto menyuguhkan semangkok soto ayam. Aku yang sedang kelaparan menyantap suguhan istimewa itu, ditambah 1 tusuk sate jeroan dan tempe goreng. Minumannya tentu saja segalas es teh manis, penghilang dahaga di teriknya siang ini. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan soto ayam yang lezat itu, satu-satunya jenis makanan berkuah yang paling aku sukai di Semarang.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju kostku, yang berada di kawasan Pandansari. Aku melewati gedung kampus lamaku, ku tatap gedung yang berdiri megah 10 lantai itu. Selama satu setengah tahun, hampir setiap hari aku ke kampus, bahkan hari minggu pun. Gedung itu bak rumah pertama, dan kos rumah kedua. Karena hampir setiap hari aku menghabiskan lebih dari 12 jam di sana. Pagi-pagi aku berangkat kuliah, dan tak jarang sampai malam aku di kampus bersama teman-teman, mengikuti seabrek kegiatan keorganisasian. Kakiku terus membawaku menyusuri jalan pemuda, jalan yang selama satu setengah tahun telah menjadi saksi kehidupanku di Semarang. Ribuan langkah telah kulewati di trotoar dimana aku melangkah siang ini, terik panas dan hujan telah kulalui bersama-sama dengan jalan ini. Ku ingat kebiasaanku dulu, kalau lelah menghampiriku, aku menghitung jumlah gedung yang tersisa yang harus kulewati sebelum aku sampai di kampus, sambil berkata ,"ah, udah deket kok Mey, tinggal 4 gedung lagi yang harus dilewati sebelum sampai dikampus".
Aku melihat kekiri dan kekanan jalan, tak banyak yang berubah. Juru parkir yang bertugas di sekitar jalan itu masih sama, bahkan orang aneh yang dulu suka "menggoda" anak kuliah yang berlalu lalang melintasi jalan itu masih disana, dan masih menggodaku waktu aku melewatinya siang ini.
Tak terasa aku telah sampai di kosku. Aku merebahkan tubuhku di sofa di ruang tamu, dan aku berkata pada diriku. "Lihatlah, sudah banyak hal yang kamu alami selama di Semarang, sudah banyak pelajaran yang kamu tangkap, sudah ribuan langkah yang engkau tempuh, akankah hidupmu sama setelah ini? Saat engkau akan meninggalkan Semarang, kota dimana engkau menuntut ilmu? Tidakkah engkau berniat untuk berjuang demi merubah nasibmu? Menaklukkan rintangan dan meraih mimpi-mimpi? Membanggakan orang tuamu? Dan mewariskan pelajaran berharga bagi generasimu?"
Pertanyaan itu cukup menggangguku, dan membuatku bertekad untuk merubah nasibku. Aku tidak mau terus seperti ini. Aku harus bangkit, maju, karena nasib yang lebih baik tengah menantiku.
Hanna
Hanna
Semarang, 01 feb 2014
Langganan:
Postingan (Atom)










