Halaman

Jumat, 28 Maret 2014

Friendship


Semua orang punya teman, tetapi teman di sekolah/kampus itu berbeda, mereka mengerti kita sama seperti orang tua kita mengerti kita, mereka mengerti kita. Perselisihan, iri, persaingan, semua mewarnai  persahabatan kita. Tak peduli bagaimana semua itu berjalan, itu takkan pernah meredupkan hati.
You all guys, my best friends, have gaven so many colors of my days.
I Love Yous. :*


Rabu, 19 Maret 2014

Cinta dan Sang Waktu Part II

Cinta yang sejati, cinta yang kita kira sudah pergi, ternyata cuma bersembunyi, menunggu waktu untuk kembali.
                                                                               ***
"Eh, elu kenapa? Ko galau gitu?", celotehan yang menjadi salam pembuka dari adikku Tasya sore itu, setelah seharian di jejali materi-materi kuliah yang cukup menguras pikiranku. Aku diam, mengabaikan ocehannya. "Sms lu gak di balas?", tambahnya lagi. "Ngga apa-apa kok, cuma kecapekan aja", jawabku singkat, mencoba mengindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ku harapkan. 

Tasya, adikku yang selama 7 bulan belakangan ini tinggal 1 kost denganku di Semarang, sepertinya mulai menangkap sinyal-sinyal kegalauanku beberapa hari belakangan ini. Sebenarnya sih ga bermaksud untuk galau, cuma kadang aku kurang ahli untuk menyembunyikan kepedihan hatiku, hehe. . Kali ini aku terlalu gengsi untuk curhat sama dia, karena aku nggak mau dia tahu betapa pedihnya hati ini. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di pelukannya beberapa waktu lalu, saat sesuatu hal yang menyakitkan hatiku terjadi. Dia hanya membiarkan aku menangis, sepuasnya. No comment! Belakangan aku tau dari pacarnya, dia benar-benar marah karena aku disakiti, tapi dia ga pernah ungkapkan hal itu kepadaku. 

Hari-hari ini aku mengalami apa yang pernah aku alami sekitar satu tahun lalu, kehilangan. Bedanya, kali ini aku sadar kenapa aku harus merasa kehilangan. Setahun yang lalu, seseorang yang sudah ku kenal dengan cukup baik, dengan setia selalu menemani hari-hariku, tawa dan tangisku. Sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa   bahagianya aku saat itu. Suatu hari, tanpa kata, tanpa alasan, dia menghilang, begitu saja! Aku marah? Ya! Tapi kepada siapa aku harus marah? Aku kecewa? Jelas! Tapi apa gunanya jika aku terus bergelut dengan kekecewaanku. Kulewati masa-masa sulit untuk beradaptasi kembali dengan hari-hari yang ku lalui tanpa hadirnya, seseorang yang terlalu dekat denganku, dan terlalu sakit untuk harus kehilangannya.

Aku pernah membaca  sebuah kalimat yang singkat, kira-kira seperti inilah maknanya. "Ada seseorang dalam hidupmu, jika ia pergi, ia membawa serta sepotong hatimu". Dulu, aku tidak mengerti apa maksud orang yang menuliskan kalimat itu. Tapi kini aku sadar, perkara hati adalah perkara yang paling sensitif. Dengan sangat excited, aku selalu menceritakan kepada adikku seseorang yang memiliki hatiku . Kuceritakan betapa spesialnya dia bagiku, dia, orang yang sekitar setahun lalu pernah sangat dekat denganku, yang menghilang tanpa alasan, dan seperti pencuri ia datang kembali. Ya, seseorang itu datang kembali.

Tapi kali ini dia datang disaat yang tidak tepat. Dia datang saat aku memutuskan melalui tahun ini in celibacy. Dia terlalu berarti, dan tak bisa ku pungkiri, aku bahagia saat ia kembali hadir mewarnai hari-hariku, meski aku sadar ini bukan waktu yang tepat. Ku biarkan ia menuliskan cerita-cerita di hidupku, dan aku menikmati setiap cerita itu. Kami, aku dan dia menuliskan mimpi-mimpi, dan akan kita raih bersama, suatu saat nanti. 

Sesuatu yang diluar harapanku terjadi. Tuhan memintanya kembali dariku. Awalnya aku baik-baik saja. Aku merasa bisa menerima semua ini, karena aku tahu dengan jelas kenapa ini terjadi. Tapi seiring waktu berlalu, kutemukan diriku mulai merasa kehilangan. Kehilangan mungkin bukan kata yang tepat, karena sesungguhnya aku tidak kehilangan. Aku hanya belum boleh memilikinya sekarang. Aku hanya harus menunggu waktu yang tepat, sampai aku benar-benar siap menerima pemberian itu, siap lahir dan batin. Sesekali, ku temukan air mata  basahi pipiku, kala ku ingat bagaimana ia pernah menemani hari-hariku. Apakah kali ini aku masih marah, kecewa?Marah sama siapa? Kecewa sama siapa? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tidak menyalahkan dirinya, diriku dan juga sang waktu. 

Kubiarkan diriku yang masih sedikit canggung dengan semua ini menikmati hari-hari yang berlalu. Sesekali, kulihat dirinya dari kejauhan, dan aku tersenyum. Ada bagian dalam diriku yang berkata, " Dear, sometimes it's enough for me to know that you're there ". Aku tau cintaku tidak hilang, ia hanya sedang jauh dariku, bersembunyi mungkin, dan ia akan datang kembali, membawa sepotong hatiku, suatu saat nanti, disaat yang tepat. :)


Semarang, 19 Maret 2014

Hanna

Senin, 17 Maret 2014

Saat Asaku Hampir Pupus

Pernah merasa putus asa dan ingin menyerah setelah sekian lama berjuang untuk meraih sesuatu yang sangat kamu dambakan??
Kira-kira perasaan seperti itulah yang ku rasakan sekarang. Hampir 15 tahun aku mengecam dunia pendidikan, aku belum pernah merasa seburuk ini. Sekarang aku semester 6 dalam studiku di sebuah universitas swasta di kota Semarang. Ini merupakan tahun-tahun terakhir aku berada di kampus. 3 tahun di kampus, di kejar-kejar tugas, penelitian dan laporan tak pernah membuatku menyerah.  Hari ini, benteng pertahananku hancur berkeping-keping, runtuh tak berbentuk. Ku tutup pintu kamarku, aku menangis sejadi-jadinya saat aku curhat sama SAHABATKU. Hal yang sederhana sebenarnya dari sudut pandang orang-orang pada umumnya. Tapi ini hal yang paling "menakutkan" bagiku. Kenapa menakutkan?? Biar 'ku ceritakan sedikit mengenai hal "menakutkan" itu. 
Secara peringkat, aku lumayan bagus dalam bidang akademis. Beberapa kali, aku membawa pulang gelar juara umum di SMP dan SMA. Tapi itu tidak cukup untuk membuatku tampil percaya diri di depan publik. Masih kuingat bagaimana aku dipermalukan teman-temanku di depan kelas dalam pelajaran Kesenian waktu di SD. Menyanyi sama sekali bukanlah duniaku, waktu itu setiap anak di wajibkan untuk menyanyikan lagu daerah oleh guru Kesenianku. Dengan terpaksa aku berdiri di depan kelas dan menyumbangkan sebuah lagu. Salah satu anak mulai menertawakanku, karena suaraku fals dan tak bernada. Teman-teman lain mengikuti tingkahnya dan berhasil membuatku menangis. Dan mulai hari itu, sangat sulit bagiku untuk bisa tampil percaya diri di depan kelas. 
Menyelesaikan pendidikan dasar di SD Inpres Siabang-abang dengan nilai yang bagus, mengikuti test untuk masuk SMP,diterima dan  lulus dari SMP N 1 Kuta Buluh dengan nilai terbaik, masih dengan hal yang sama saat masuk dan lulus dari SMA N 1 Payung. 
Aku mulai memikirkan tujuanku di saat-saat terakhir di bangku SMA. Kuliner, hal yang sangat aku senangi disamping kegiatan akademisku. Kusampaikan hal ini kepada orang tuaku, melanjutkan pendidikanku di bidang kuliner. Proposalku tidak diterima. Dari sekolah ada tawaran untuk mendaftar kuliah melalui jalur undangan, yang diperuntukkan bagi siswa yang berprestasi. Formulir pendaftaran sudah di tanganku, dan wakil kepala sekolahku menyarankan aku untuk memilih program pendidikan, yang kelak akan menjadi guru. Ku bawa  formulir itu pulang, ku ceritakan kepada orang tuaku mengenai tawaran itu. Mereka tidak ada masalah dengan hal itu, tapi hatiku berkata itu bukan duniaku. Keesokan harinya ku kembalikan formulir itu. Sontak, wakil kepala sekolahku kaget dan menganggap aku mulai sinting. Siswa lain berebutan agar bisa mendapatkan formulir yang sangat terbatas, aku malah dengan perasaan tak berdosa mengembalikannya ke pihak sekolah. Alasannya adalah, aku tidak mau menjadi guru!
Dan hari ini, saat masuk mata kuliah TEFL II, dosenku menyampaikan silabus untuk perkuliahan kami selama semester ini. "Okay, guys! You are going to practice your capabilty in teaching at school, not in this class, in front of your friends. So, prepare yourself!"
Begitulah kira-kira wejangan yang disampaikan dosenku hari ini. Jadi kami di suguhi 8 metode pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk di pelajari sendiri, dan kami akan mengajar anak-anak di SD yang sudah ditentukan oleh sang dosen dengan mengkombinasikan metode-metode tersebut. 
Kelas berakhir, dan aku pulang dengan perasaan yang campur aduk. I hate to be a teacher, especially in Kindergarten and Elementary School! Aku bahkan belum mengerti metode-metode yang diberikan dosenku hari ini. Ku bayangkan anak-anak SD berseragam, dan aku masuk kelas, mencoba merebut segenap perhatian mereka, dan menyampaikan pelajaran. I am absolutely nervous, although just imagine. 
Rasa nervousku berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku sore ini, di kamar kostku yang sepi. Aku, dengan harapan yang sangat besar tidak bertemu mata kuliah micro-teaching, mendaftar sebagai mahasiswa dalam Progran Studi S1 Sastra Inggris, but in fact, aku bahkan tidak bisa mengelak sama sekali dari pelajaran itu.

Semarang, 17 Maret 2014
Hanna



Sabtu, 01 Februari 2014

Seni Kehidupan Jalanan

Hari ini aku reunian dengan diriku sendiri dan masa-masa yang telah aku lalui. Di bawah teriknya matahari aku menyusuri jalan Pemuda Semarang, dari Gramedia sampai kostku. Angin yang berhembus kencang menyibak rambutku, membuatku merasa seolah seperti seorang model yang sedang taking picture di tepi pantai. Entah kenapa aku tiba-tiba pengen jalan kaki sepulang dari Gramedia, padahal aku sudah merencanakan untuk naik angkutan umum. Tapi kaki ku membawaku menyusuri jalan-jalan yang dulu sering kulalui, namun satu tahun belakangan ini nyaris tak pernah lagi ku lintasi. Terik matahari menjerang kulitku yang sudah berwarna gelap, namum hatiku cukup bersyukur bisa merasakan panasnya Semarang siang ini, karena lebih dari 2 minggu terakhir ini si bola api raksasa itu enggan "memanasi" kota kami.
Jalan kaki sebenarnya sangat menyenangkan bagiku, namun kadang panas terik membuatku enggan menapak jalanan. Di jalanan aku belajar banyak hal, belajar bersyukur karena kedua kaki ku masih bisa berfungsi dengan baik. Belajar mensyukuri hidup, karena ada begitu banyak orang yang tak seberuntung diriku, dan mereka harus "hidup" di jalanan. Di jalan aku belajar tentang kekejaman sekaligus keindahan dalam hidup ini. Aku menyaksikan orang-orang yang bergantung pada "jalanan" untuk bertahan hidup. Aku melihat tukang sapu di jalan raya, tukang becak, juru parkir, pedangang asongan, pengamen, pengemis, dan masih banyak hal lain yang ku saksikan di jalanan. Aku senang menyusuri jalan saat senja menghampiri, saat matahari sudah terbenam, dan aku tak merasakan panas lagi. Saat malam tiba, aku melihat keindahan yang tak dapat kugambarkan dengan kata-kata, aku senang menyaksikan lampu kota, indahnya warna-warni itu membuatku jatuh cinta, jatuh cinta pada jalan, malam, dan warna-warni lampu kota. 
Kuceritkan dulu tentang perjalananku siang hari ini. Aku diam-diam menyukai seni kehidupan jalanan. Aku tersenyum simpul saat bapak tukang becak menawariku untuk menggunakan jasa becaknya. Ahh, bapak itu mengingatkanku pada ayahku. Ayahku bukan seorang tukang becak seperti bapak itu, tapi perjuangan bapak itu menghidupi keluarganya menyadarkanku akan perjuangan ayahku yang tak kenal lelah, demi menyekolahkan kami anak-anaknya. Beberapa langkah setelah melewati si bapak tukang becak aku melihat seorang ibu separuh baya sedang berjualan makanan di trotoar. Perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah,  tak peduli panas atau hujan, berjuang demi mendapatkan rupiah. Aku tersenyum getir, teringat waktu aku membantu ibuku jualan di pusat pasar Kabanjahe. Hari semakin terik, perut kosongku keroncongan. Aku memutuskan berhenti dan makan siang di tukang Soto Ayam Surabaya di tepi jalan. Dulu, aku sering makan siang disini dengan teman-teman kuliahku, waktu kampusku masih berdiri megah di kawasan elit jalan Pemuda. Tapi sekarang kampusku pindah beberapa ratus meter ke arah timur, dan tak jarang aku bolos kuliah saat musim hujan tiba, karena kampusku banjir. Miris sekali! 
Ibu tukang soto menyuguhkan semangkok soto ayam. Aku yang sedang kelaparan menyantap suguhan istimewa itu, ditambah 1 tusuk sate jeroan dan tempe goreng. Minumannya tentu saja segalas es teh manis, penghilang dahaga di teriknya siang ini. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan soto ayam yang lezat itu, satu-satunya jenis makanan berkuah yang paling aku sukai di Semarang. 
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju kostku, yang berada di kawasan Pandansari. Aku melewati gedung kampus lamaku, ku tatap gedung yang berdiri megah 10 lantai itu. Selama satu setengah tahun, hampir setiap hari aku ke kampus, bahkan hari minggu pun. Gedung itu bak rumah pertama, dan kos rumah kedua. Karena hampir setiap hari aku menghabiskan lebih dari 12 jam di sana. Pagi-pagi aku berangkat kuliah, dan tak jarang sampai malam aku di kampus bersama teman-teman, mengikuti seabrek kegiatan keorganisasian. Kakiku terus membawaku menyusuri jalan pemuda, jalan yang selama satu setengah tahun telah menjadi saksi kehidupanku di Semarang. Ribuan langkah telah kulewati di trotoar dimana aku melangkah siang ini, terik panas dan hujan telah kulalui bersama-sama dengan jalan ini. Ku ingat kebiasaanku dulu, kalau lelah menghampiriku, aku menghitung jumlah gedung yang tersisa yang harus kulewati sebelum aku sampai di kampus, sambil berkata ,"ah, udah deket kok Mey, tinggal 4 gedung lagi yang harus dilewati sebelum sampai dikampus". 
Aku melihat kekiri dan kekanan jalan, tak banyak yang berubah. Juru parkir yang bertugas di sekitar jalan itu masih sama, bahkan orang aneh yang dulu suka "menggoda" anak kuliah yang berlalu lalang melintasi jalan itu masih disana, dan masih menggodaku waktu aku melewatinya siang ini.
Tak terasa aku telah sampai di kosku. Aku merebahkan tubuhku di sofa di ruang tamu, dan aku berkata pada diriku. "Lihatlah, sudah banyak hal yang kamu alami selama di Semarang, sudah banyak pelajaran yang kamu tangkap, sudah ribuan langkah yang engkau tempuh, akankah hidupmu sama setelah ini? Saat engkau akan meninggalkan Semarang, kota dimana engkau menuntut ilmu? Tidakkah engkau berniat untuk berjuang demi merubah nasibmu? Menaklukkan rintangan dan meraih mimpi-mimpi? Membanggakan orang tuamu? Dan mewariskan pelajaran berharga bagi generasimu?"
Pertanyaan itu cukup menggangguku, dan membuatku bertekad untuk merubah nasibku. Aku tidak mau terus seperti ini. Aku harus bangkit, maju, karena nasib yang lebih baik tengah menantiku.

Hanna
Semarang, 01 feb 2014


Selasa, 21 Januari 2014

Sahabat Kepompong


"Terkadang sendiri memang lebih baik", kata Dinda pada dirinya sendiri yang tengah menikmati segelas teh manis hangat di suatu senja yang dingin sambil memandang fotonya dan sahabatnya yang di pajang di kamar tidurnya. Cukup lama ia memandang foto dengan latar belakang air terjun itu. Akhir-akhir ini Dinda memang lebih sering sendiri kemana-mana. Sangat berbeda dengan beberapa saat lalu. Dulu, ia biasa menghabiskan waktunya dengan Rehan, sahabatnya. Teman-teman mereka bahkan sering mengatakan Rehan adalah bayangan Dinda, karena dimana ada Dinda, selalu saja ada Rehan disana. Jalan pagi bareng, berangkat ke kampus bareng, makan bareng, belajar bareng, ke toko buku bareng, nonton bareng, hang out bareng, de el el.
Teh manis hangat yang menemani sore Dinda sudah habis ia teguk. Namun pandangannya masih tetap ke arah fotonya dan Rehan. Ia mencoba bernostalgia mengenang detik demi detik yang telah ia habiskan bersama Rehan. Persahabatan mereka bagaikan persahabatan kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu. Dan carang kayu adalah tempat menempelnya kepompong.  Saat jadi kepompong, begitu dekatnya mereka sehingga tak ada jarak lagi. Saaet menjadi kupu-kupu, si kupu-kupu terbang kian kemari.
Ya, dulu Dinda dan Rehan bagaikan kepompong dan carang kayu, jarak yang memisahkan mereka 0. Begitu dekatnya mereka sehingga hampir setiap aktivitas mereka lakukan bersama-sama. Dinda tersenyum mengingat Rehan yang selalu menggodanya tiap kali melihat kebiasaan Dinda yang suka menjentikkan jari manis, jari tengah dan telunjuknya dengan cepat kalau ia sedang kebingungan. 1 lagi kebiasaan Dinda yang kini juga menjadi kebiasaan Rehan, menjentikkan telunjuk ke hidungnya kalau ia sedang berpikir. Kebiasaan-kebiasaan konyol itu selalu mereka tertawakan bersama.
"Arrghh,,, terlalu banyak cerita yang telah kita tuliskan bersama Re", bisik Dinda pada dirinya sendiri. "Aku merindukan tawa kita yang dulu, aku merindukan saat kita menyaksikan lampu kota bersama, jalan pagi bareng, belajar bareng. Tapi apa mungkin? Apa mungkin aku bisa hang out bareng kamu lagi?  Kamu bahkan tidak menganggapku masih ada. Sekarang kamu ga butuh aku lagi, kamu ga butuh sahabatmu lagi, karena kini kamu punya seseorang yang jauh lebih sempurna dari aku."
Terkadang kenyataan memang terlalu pahit untuk dihadapi. Dinda, dengan terpaksa harus kehilangan sahabatnya, karena sahabatnya kini bersandingkan seseorang yang lebih pantas untuk menuliskan cerita bersama. Jarak 0 yang dulu pernah ada, kini bagaikan 2 garis sejajar yang meski di tarik sepanjang apapun tidak akan pernah bertemu.
Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi di sore itu, dan tanpa ia sadari air mata basahi pipinya mengenang hari-harinya dengan Rehan, yang pernah jadi sahabatnya.


Hanna,
Semarang, 21 Jan 2014

Minggu, 12 Januari 2014

Sinabung Oh...Sinabung


Tidur nyenyakku ter-interupsi malam itu, 28 Agustus 2010. Salah seorang tetanggaku mengetok pintu sambil berteriak " Bangun...bangun...Gunung Sinabung meletus". Dengan keadaan masih setengah sadar, kami sekeluarga keluar rumah demi mendengar teriakan itu. Aku, yang masih tidak percaya dengan apa yang kudengar, karena tadi siangnya aku masih berangkat ke sekolahku yang berada persis di lereng Sinabung,dengan mata yang masih terkantuk- kantuk, melihat ke arah timur, ke singgasananya Sinabung. Kantukku hilang, dan aku merasakan tubuhku gemetaran. Sekitar belasan kilometer di depanku, di puncak Sinabung aku melihat bara api keluar. Seolah mentari telah bersinar di tengah malam yang dingin itu.  Aku masih belum percaya dengan apa yang ku lihat, masih belum percaya Gunung Sinabung telah meletus. Tadi siang aku masih mengikuti pelajaran seperti biasa, dan tidak ada tanda-tanda gunung akan meletus, pikirku.

Sesaat kemudian ku temukan diriku telah berkumpul dengan semua tetangga ku di salah satu rumah tetangga, pemilik rumah segera menyalakan pesawat televisi dan kami melihat berita Gunung Sinabung telah meletus di siarkan. Aku baru percaya Sinabung telah meletus setalah mendengar siaran itu.
Kami tidak mengungsi karena desa kami masih aman, meski kami dan semua warga lumayan was-was malam itu. Keesokan harinya, aku dikagetkan dengan info lain yang kudengar saat aku bangun. " Cobalah keluar, ada banyak pengungsi di Losd, manatau ada teman sekolahmu disana", kata adikku.
Aku keluar rumah dan segera ke balai desa, yang dalam bahasa adat karo di sebut Losd atau Jambur. Aku tak kuasa menyaksikan pemandangan yang menyayat-nyayat hatiku. Ada banyak pengungsi yang tidur di sana, dan tidak sedikit yang aku kenal. Beberapa dari mereka adalah teman sekolahku dan keluaraganya. Selama 1 bulan lebih setelah hari itu, desa kami menjadi salah satu posko pengungsian. Beberapa teman tidur di rumahku karena Losd di desa kami tidak cukup luas untuk menampung semua pengungsi. Dan selama itu juga kami tidak bersekolah di SMA kami tercinta, SMA N 1 Payung, karena terlalu beresiko untuk berangkat kesana. Aku dan beberapa teman lainnya "numpang" di SMA N 1 Kuta Buluh yang tidak jauh dari desaku, desa Siabang-abang. Dan setelah itu ada kebijakan dari sekolah kami, bahwa semua siswa SMA N 1 Payung yang untuk sementara meminjam ruangan belajar SMP N 1 Kutabuluh, kami dan guru - guru kami ahkirnya melanjutkan proses belajar-mengajar disana.

3 tahun setelah kejadian itu, warga Tanah Karo sudah mulai melupakan mengenai bencana alam tersebut. Meskipun belum sepenuhnya trauma akan kejadian tersebut terobati. Dalam masa pemulihan itu. sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Sinabung meletus lagi. Aku lupa kapan persisnya Sinabung erupsi kembali, mungkin sekitar bulan September di tahun 2013 kemarin. Dan hari ini, lebih dari 22.000 jiwa yang di ungsikan. Keadaan Sinabung semakin memburuk, beberapa desa dan sejumlah lahan pertanian di sekitar Sinabung rusak parah. Abu vulkanik dimana-mana.

Saya, seorang mahasiswa yang kuliah jauh dari Tanah Karo tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Tanah Karo. Saya menghabiskan lebih dari 18 tahun hidup saya di tanah yang sangat subur dan terberkati itu. Dan hari-hari ini saya harus menyaksikan dari berbagai media keadaan kampung halaman saya, yang sekarang diselimuti abu vulkanik. Semua tempat terlihat sama, tak berwarna!
Saya dan beberapa teman yang juga berasal dari sekitar Gunung Sinabung, kerap kali berkumpul, berdoa bersama untuk keluarga kami dan semua warga Karo.  Sejujurnya, hati kami gundah. Jauh dari keluarga kami yang sebagian besar berada di posko pengungsian.
Apalah daya kami. Hanya doa disertai air mata yang menemani kami, dan harapan yang sangat besar agar bencana alam ini segera berakhir dan tanah kelahiran kami, Tanah Karo di lawat dan di pulihkan Tuhan.

Mejuah-juah

Semarang, 12 Jan 2014
Hanna Meyti Sitepu


Jumat, 03 Januari 2014

Me and My New Year

Selamat Tahun Baru sahabat bloggers...
Kali ini saya mau mengabadikan cerita tahun baru saya di tahun ini... :)
Awalnya sedikit kebingungan hendak buka tahun dengan siapa saja dan dimana. But, fortunately sahabat saya "mengundang"  ke rumahnya di Sowanan-Ngablak-Magelang-Jawa Tengah. Aku dan adikku berangkat 31 Des 2013 dari Semarang. Saat nungguin bis, ketemu teman-teman yang mau naik Merbabu...Wewww,,, nekat sekali mereka menaklukkan puncak Merbabu di musim hujan seperti ini.

Dinginnya lereng Merbabu menyambut kedatangan kami disertai rintik-rintik hujan. Teman-teman yang mendaki gunung menuju dusun Sidomukti, aku dan adikku di jemput sahabatku dan kami ke Sowanan. Kedatangan kami ke Sowanan semata-mata bukanlah sekedar tahun baruan, tapi juga merayakan natal bersama sidang jemaat GKII Anugerah Sowanan di hari terakhir tahun 2013 itu. Malam itu kita natalan bareng, dengan tema "Hidup Berkelimpahan pada Allah", dilanjutkan dengan makan malam bersama, break  sebentar dan kemudian ada ibadah tutup dan buka tahun.

Tahun Baru ini merupakan tahun ke-tiga yang harus saya lewati tanpa kumpul dengan seluruh anggota keluarga saya. Tapi saya tetap bersyukur buat kesempatan yang masih Tuhan berikan untuk memasuki tahun yang baru ini. Perayaan Buka Tahun kami lewati dengan sukacita, maen petasan bareng sahabatku yang paling comek. Setelah itu kita begadang sampai pagi, aku, adikku dan sahabatku bioskopan di gereja, nonton Ice Age 4 dan Rapunzel, ditemani wedang jahe yang membuat dinginnya malam itu terasa lebih hangat. Sebelum masuk ke gereja, aku sempat melihat ke arah merbabu yang tertutup awan, bertanya-tanya bagaimana kira-kira nasib teman-temanku.

Sorenya, aku ke Sidomukti. Ke rumah teman dan keluarga baruku disana. Sidomukti, Kopeng rasanya bak kampung sendiri. Pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah dingin ini akhir Agustus 2013. Kopeng, dulunya merupakan tempat tujuan Mission Trip ku. Tapi Tuhan berkehandak lain, aku di mutasi ke Bandungan. Pulang dari Mission Trip, aku di ajak anak rohaniku liburan ke Kopeng. Dan sejak saat itu, Kopeng menjadi salah satu tempat yang paling aku senangi. Meskipun suhu disana dingin, tapi penduduknya ramah dan saat-saat bersama mereka merupakan kehangatan yang tak terpungkiri.

Tahun Baru di tahun 2014 ini bertepatan dengan perayaan Saparan di Kopeng. Saparan sendiri merupakan suatu tradisi  milik orang jawa, yang menurut sejarah tradisi ini untuk mensyukuri desa supaya tetap sejahtera dan makmur serta untuk mengirim doa bersama masyrakat,  biasa di lakukan di bulan Sapar. Setiap warga menyediakan hidangan yang lebih "mewah" dari biasanya. Hampir di setiap rumah yang saya kunjungi aku menemukan kue Jadah. Kue jadah mirip dengan kue wajik, terbuat dari ketan.

Acara Saparan mengingatkanku akan sebuah tradisi di Tanah Karo yang mirip dengan acara ini., Kerja Tahun. Kerja Tahun adalah suatu bentuk ritual atau upacara penyembahan kepada Sang Pencipta atau Beraspati Taneh (dewa yang berkuasa atas tanah menurut agama Pemena atau agama asli suku Karo) yang bertujuan menyukseskan setiap tahapan aktivitas pertanian dan manifestasi dari harapan akan hasil panen yang berlimpah (Sembiring, 1992). Dalam perayaan Kerja Tahun setiap warga biasanya menghidangkan santapan yang melimpah dan mewah, seperti rendang, lomok-lomok, sup, dll. Kerja Tahun tidak lengkap tanpa "cimpa". Cimpa merupakan kue khas milik orang karo, yang terbuat dari tepung ketan dan di tengahnya terdapat serunding+gula aren.

Kunjungan tahun baru ke Sidomukti kembali mempertemukanku dengan teman-teman yang mendaki Merbabu. Mereka berbagi kisah pendakian mereka yang "terrible and amazing". Merka di terpa badai dan nyaris mati kedinginan. Namun, pertolongan Tuhan selalu beserta mereka hingga akhirnya mereka bisa kembali turun ke Sidomukti, Kopeng.

Sahabat Bloggers, kita sudah memasuki tahun 2014. Tentunya banyak harapan dan mimpi-mimpi yang hendak kita raih. Dan saya juga mempunyai sejuta harapan di tahun ini. Di tulisanku yang berjudul "Marah" aku menulis bahwa aku ingin bangkit, dan saat aku terjaga aku ingin melihat mentari pagi yang indah, yang membuatku lupa akan semua mimpi-mimpi buruk itu. Di awal tahun ini, aku sudah bangkit dan telah kusaksikan mentari pagi yang indah, dan aku berhasil melupakan mimpi-mimpi burukku. :)
Thank's Lord, for everything, for happiness, for the tears and for someone who always makes me smile. :)

Mejuah-juah... Selamat Tahun Mbaru 2014
Sugeng Warsa Enggal 2014
Selamat Tahun Baru 2014
Happy New Year 2014















Semarang, 3 Januari 2014
Hanna