Halaman

Minggu, 12 Januari 2014

Sinabung Oh...Sinabung


Tidur nyenyakku ter-interupsi malam itu, 28 Agustus 2010. Salah seorang tetanggaku mengetok pintu sambil berteriak " Bangun...bangun...Gunung Sinabung meletus". Dengan keadaan masih setengah sadar, kami sekeluarga keluar rumah demi mendengar teriakan itu. Aku, yang masih tidak percaya dengan apa yang kudengar, karena tadi siangnya aku masih berangkat ke sekolahku yang berada persis di lereng Sinabung,dengan mata yang masih terkantuk- kantuk, melihat ke arah timur, ke singgasananya Sinabung. Kantukku hilang, dan aku merasakan tubuhku gemetaran. Sekitar belasan kilometer di depanku, di puncak Sinabung aku melihat bara api keluar. Seolah mentari telah bersinar di tengah malam yang dingin itu.  Aku masih belum percaya dengan apa yang ku lihat, masih belum percaya Gunung Sinabung telah meletus. Tadi siang aku masih mengikuti pelajaran seperti biasa, dan tidak ada tanda-tanda gunung akan meletus, pikirku.

Sesaat kemudian ku temukan diriku telah berkumpul dengan semua tetangga ku di salah satu rumah tetangga, pemilik rumah segera menyalakan pesawat televisi dan kami melihat berita Gunung Sinabung telah meletus di siarkan. Aku baru percaya Sinabung telah meletus setalah mendengar siaran itu.
Kami tidak mengungsi karena desa kami masih aman, meski kami dan semua warga lumayan was-was malam itu. Keesokan harinya, aku dikagetkan dengan info lain yang kudengar saat aku bangun. " Cobalah keluar, ada banyak pengungsi di Losd, manatau ada teman sekolahmu disana", kata adikku.
Aku keluar rumah dan segera ke balai desa, yang dalam bahasa adat karo di sebut Losd atau Jambur. Aku tak kuasa menyaksikan pemandangan yang menyayat-nyayat hatiku. Ada banyak pengungsi yang tidur di sana, dan tidak sedikit yang aku kenal. Beberapa dari mereka adalah teman sekolahku dan keluaraganya. Selama 1 bulan lebih setelah hari itu, desa kami menjadi salah satu posko pengungsian. Beberapa teman tidur di rumahku karena Losd di desa kami tidak cukup luas untuk menampung semua pengungsi. Dan selama itu juga kami tidak bersekolah di SMA kami tercinta, SMA N 1 Payung, karena terlalu beresiko untuk berangkat kesana. Aku dan beberapa teman lainnya "numpang" di SMA N 1 Kuta Buluh yang tidak jauh dari desaku, desa Siabang-abang. Dan setelah itu ada kebijakan dari sekolah kami, bahwa semua siswa SMA N 1 Payung yang untuk sementara meminjam ruangan belajar SMP N 1 Kutabuluh, kami dan guru - guru kami ahkirnya melanjutkan proses belajar-mengajar disana.

3 tahun setelah kejadian itu, warga Tanah Karo sudah mulai melupakan mengenai bencana alam tersebut. Meskipun belum sepenuhnya trauma akan kejadian tersebut terobati. Dalam masa pemulihan itu. sesuatu yang diluar dugaan terjadi. Sinabung meletus lagi. Aku lupa kapan persisnya Sinabung erupsi kembali, mungkin sekitar bulan September di tahun 2013 kemarin. Dan hari ini, lebih dari 22.000 jiwa yang di ungsikan. Keadaan Sinabung semakin memburuk, beberapa desa dan sejumlah lahan pertanian di sekitar Sinabung rusak parah. Abu vulkanik dimana-mana.

Saya, seorang mahasiswa yang kuliah jauh dari Tanah Karo tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Tanah Karo. Saya menghabiskan lebih dari 18 tahun hidup saya di tanah yang sangat subur dan terberkati itu. Dan hari-hari ini saya harus menyaksikan dari berbagai media keadaan kampung halaman saya, yang sekarang diselimuti abu vulkanik. Semua tempat terlihat sama, tak berwarna!
Saya dan beberapa teman yang juga berasal dari sekitar Gunung Sinabung, kerap kali berkumpul, berdoa bersama untuk keluarga kami dan semua warga Karo.  Sejujurnya, hati kami gundah. Jauh dari keluarga kami yang sebagian besar berada di posko pengungsian.
Apalah daya kami. Hanya doa disertai air mata yang menemani kami, dan harapan yang sangat besar agar bencana alam ini segera berakhir dan tanah kelahiran kami, Tanah Karo di lawat dan di pulihkan Tuhan.

Mejuah-juah

Semarang, 12 Jan 2014
Hanna Meyti Sitepu


Jumat, 03 Januari 2014

Me and My New Year

Selamat Tahun Baru sahabat bloggers...
Kali ini saya mau mengabadikan cerita tahun baru saya di tahun ini... :)
Awalnya sedikit kebingungan hendak buka tahun dengan siapa saja dan dimana. But, fortunately sahabat saya "mengundang"  ke rumahnya di Sowanan-Ngablak-Magelang-Jawa Tengah. Aku dan adikku berangkat 31 Des 2013 dari Semarang. Saat nungguin bis, ketemu teman-teman yang mau naik Merbabu...Wewww,,, nekat sekali mereka menaklukkan puncak Merbabu di musim hujan seperti ini.

Dinginnya lereng Merbabu menyambut kedatangan kami disertai rintik-rintik hujan. Teman-teman yang mendaki gunung menuju dusun Sidomukti, aku dan adikku di jemput sahabatku dan kami ke Sowanan. Kedatangan kami ke Sowanan semata-mata bukanlah sekedar tahun baruan, tapi juga merayakan natal bersama sidang jemaat GKII Anugerah Sowanan di hari terakhir tahun 2013 itu. Malam itu kita natalan bareng, dengan tema "Hidup Berkelimpahan pada Allah", dilanjutkan dengan makan malam bersama, break  sebentar dan kemudian ada ibadah tutup dan buka tahun.

Tahun Baru ini merupakan tahun ke-tiga yang harus saya lewati tanpa kumpul dengan seluruh anggota keluarga saya. Tapi saya tetap bersyukur buat kesempatan yang masih Tuhan berikan untuk memasuki tahun yang baru ini. Perayaan Buka Tahun kami lewati dengan sukacita, maen petasan bareng sahabatku yang paling comek. Setelah itu kita begadang sampai pagi, aku, adikku dan sahabatku bioskopan di gereja, nonton Ice Age 4 dan Rapunzel, ditemani wedang jahe yang membuat dinginnya malam itu terasa lebih hangat. Sebelum masuk ke gereja, aku sempat melihat ke arah merbabu yang tertutup awan, bertanya-tanya bagaimana kira-kira nasib teman-temanku.

Sorenya, aku ke Sidomukti. Ke rumah teman dan keluarga baruku disana. Sidomukti, Kopeng rasanya bak kampung sendiri. Pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah dingin ini akhir Agustus 2013. Kopeng, dulunya merupakan tempat tujuan Mission Trip ku. Tapi Tuhan berkehandak lain, aku di mutasi ke Bandungan. Pulang dari Mission Trip, aku di ajak anak rohaniku liburan ke Kopeng. Dan sejak saat itu, Kopeng menjadi salah satu tempat yang paling aku senangi. Meskipun suhu disana dingin, tapi penduduknya ramah dan saat-saat bersama mereka merupakan kehangatan yang tak terpungkiri.

Tahun Baru di tahun 2014 ini bertepatan dengan perayaan Saparan di Kopeng. Saparan sendiri merupakan suatu tradisi  milik orang jawa, yang menurut sejarah tradisi ini untuk mensyukuri desa supaya tetap sejahtera dan makmur serta untuk mengirim doa bersama masyrakat,  biasa di lakukan di bulan Sapar. Setiap warga menyediakan hidangan yang lebih "mewah" dari biasanya. Hampir di setiap rumah yang saya kunjungi aku menemukan kue Jadah. Kue jadah mirip dengan kue wajik, terbuat dari ketan.

Acara Saparan mengingatkanku akan sebuah tradisi di Tanah Karo yang mirip dengan acara ini., Kerja Tahun. Kerja Tahun adalah suatu bentuk ritual atau upacara penyembahan kepada Sang Pencipta atau Beraspati Taneh (dewa yang berkuasa atas tanah menurut agama Pemena atau agama asli suku Karo) yang bertujuan menyukseskan setiap tahapan aktivitas pertanian dan manifestasi dari harapan akan hasil panen yang berlimpah (Sembiring, 1992). Dalam perayaan Kerja Tahun setiap warga biasanya menghidangkan santapan yang melimpah dan mewah, seperti rendang, lomok-lomok, sup, dll. Kerja Tahun tidak lengkap tanpa "cimpa". Cimpa merupakan kue khas milik orang karo, yang terbuat dari tepung ketan dan di tengahnya terdapat serunding+gula aren.

Kunjungan tahun baru ke Sidomukti kembali mempertemukanku dengan teman-teman yang mendaki Merbabu. Mereka berbagi kisah pendakian mereka yang "terrible and amazing". Merka di terpa badai dan nyaris mati kedinginan. Namun, pertolongan Tuhan selalu beserta mereka hingga akhirnya mereka bisa kembali turun ke Sidomukti, Kopeng.

Sahabat Bloggers, kita sudah memasuki tahun 2014. Tentunya banyak harapan dan mimpi-mimpi yang hendak kita raih. Dan saya juga mempunyai sejuta harapan di tahun ini. Di tulisanku yang berjudul "Marah" aku menulis bahwa aku ingin bangkit, dan saat aku terjaga aku ingin melihat mentari pagi yang indah, yang membuatku lupa akan semua mimpi-mimpi buruk itu. Di awal tahun ini, aku sudah bangkit dan telah kusaksikan mentari pagi yang indah, dan aku berhasil melupakan mimpi-mimpi burukku. :)
Thank's Lord, for everything, for happiness, for the tears and for someone who always makes me smile. :)

Mejuah-juah... Selamat Tahun Mbaru 2014
Sugeng Warsa Enggal 2014
Selamat Tahun Baru 2014
Happy New Year 2014















Semarang, 3 Januari 2014
Hanna

Jumat, 27 Desember 2013

Perayaan Natal di Era Teknologi

Saya, Hanna Meyti Sitepu mengucapkan Selamat Hari Natal..
hehe..
Ga tau kenapa nih, lagi pengen nulis tentang natal.. 3 tahun terakhir ini aku ngerayain natal di negeri orang,,hahaha.. kaya aku di luar negeri aja yah.. So, selama 3 tahun ini juga aku "kehilangan" tradisi natalku waktu masih di kampung tercinta. Yang dulunya hampir setiap malam ikut perayaan natal, selama 3 tahun terakhir ini cuma natalan di kampus, untung-untung ada undangan natal dari gereja tempat PMK UNAKI pelayanan weekend. Dan tahun ini, aku udah ikut perayaan natal 2 kali. 24 Desember kemarin perayaan natal di kampus. Perayaan natal yang ke-dua di salah satu gereja dimana PMK UNAKI pernah ada pelayanan weekend dan mission trip. Pada dasarnya saya sangat bersukacita demi menghadiri kedua perayaan tersebut. Acaranya meriah dan para jemaat terlihat lebih cantik, ganteng dan rapi dengan dress code yang pastinya sudah dipersiapkan jauh-juah hari. Semua orang tersenyum dan bersukacita.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya. Saat ada persembahan pujian atau pertunjukan dari jemaat dan tamu undangan, saya merasa tidak sedang menyaksikan penampilan mereka. Tapi saya menyaksikan punggung-punggung sejumlah photographer yang mencoba mengabadikan moment yang sangat indah itu. Dalam susunan kepanitiaan, pastinya sudah ada seksi dokumentasi yang ditunjuk. Namun, karena perkembangan zaman dan jemaat yang tidak ketinggalan zaman, hampir semua jemaat yang kini menggunakan alat komunikasi yang canggih disertai media video kamera menjadi seksi dokumentasi. Sayang kan kalau kameranya tidak digunakan? Hal ini menyebabkan jemaat yang menonton berbondong-bondong merekam penampilan di event-event natal yang dirayakan hanya 1 tahun sekali. Apalagi yang mempersembahkan pujian anak-anak sekolah minggu yang masih unyu-unyu, imut-imut dan lucu-lucu. Orang tua mereka dengan senyuman bahagia melihat sibuah hati di atas panggung akan segera mendekat dan mengabadikan penampilan anak-anaknya.

Malam ini saya mencoba bernostalgia dengan perayaan-perayaan natal yang pernah saya ikuti beberapa tahun lalu, sebelum Indonesia di hujani alat-alat elektronik yang canggih. Saya dan ratusan jemaat lainnya mengikuti acara perayaan natal dengan sukacita. Penyalaan lilin dan menyanyikan lagu Malam Kudus dengan hikmat dan penuh penghayatan. Merenungkan kembali malam natal yang pertama, 2000 tahun lalu, di kandang domba di Efrata, Bayi Yesus dilahirkan oleh seoarang perawan, Maria, dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan di palungan. Dengan kerelaan meninggalkan kemuliaan-Nya di surga, turun ke bumi dan menjadi sama dengan manusia. Dengan tujuan yang teramat mulia, menebus dosa-dosa kita, manusia yang terlalu bangga dengan hidup kita yang hina dan penuh dosa.

Dan malam ini saya sadar, bahwa esensi natal bukanlah tentang perayaan yang megah dan meriah, bukan tentang baju seragam saat merayakan natal, bukan tentang sinter clauss dan hadiah, bukan tentang pohon natal dan salju. Tapi tentang kasih dan damai sejahtera yang menjadi alasan Yesus Kristus datang ke dunia.
Bagaimana kita bisa membagikan kasih Yesus kepada sesama kita, mengasihi orang-orang yang ada disekitar kita, bahkan mengasihi orang-orang yang menyakiti kita. Membagikan kabar keselamatan yang telah kita terima, dan orang lain juga bisa memperoleh keselamatan dari Sang Juru Selamat yang telah lahir ke dunia.

Selamat Natal buat teman-teman bloggers, semoga damai sejahtera dari Yesus Kristus boleh memenuhi hati dan kehidupan kita.
Tuhan Yesus memberkati...
Shalom...










Hanna,
Semarang, 27 Des 2013

Kamis, 26 Desember 2013

Marah

Kadang aku ingin marah, kalau 'ku ingat kenyataan ini. Kurasa getir di hatiku, saat ku ingat betapa teganya takdir merebutmu dariku. Bahkan kadang aku ingin marah, marah sama kamu, mengapa kau biarkan aku jatuh cinta sama kamu, kalau akhirnya kau menyiksa batinku sedalam ini?? Tapi aku paling marah sama diriku sendiri. Mengapa aku jadi sebodoh ini? Terlalu mencintaimu, hingga cinta ini butakan segalanya. Cinta ini membuatku lupa, lupa bahwa tak seharusnya aku mencintaimu lagi.
Cinta ini tetap saja sama, setelah apa yang kau lakukan padaku. Dan hati ini masih tetap berharap kau kembali, setelah kau berlalu begitu jauh.Sesunggguhnya aku berharap aku hanya sedang bermimpi.Sebuah mimpi buruk !! Aku ingin segera terjaga, tapi tetap saja mata ini terpejam. Aku ingin meneriakkan pilu dan pedihnya hati ini, namun bibirku terlalu kelu walau hanya untuk berkata-kata.Aku ingin bangkit, namun tubuh ini seakan remuk, lumpuh tak berdaya.
Aku ingin bangkit dari mimpi buruk ini, dan saat aku terjaga ingin ku lihat mentari pagi yang indah, yang membuatku lupa akan semua mimpi-mimpi buruk itu.

Hanna,
Bandungan, 20 Des 2013


Sabtu, 21 Desember 2013

Cerita di Kursi Hijau

Aku mendengar suara langkah kaki, suara pintu dibuka dan sesaat kemudian aku mendengar suara air yang      mengalir  dari kran. Suara-suara itu cukup menjadi alarmku pagi ini. Ku lihat jam digital di ponselku, pukul  02.12. Aku  beranjak dari tempat tidurku, mengintip dari balik tirai jendela kamar, mencoba mengamati  apa  yang sedang  terjadi di luar sana. Ahh…ternyata seorang kakek tua baru saja selesai wudu, dan siap untuk salat  di sebuah  mushola kecil tepat di depan kostku.
Aku menutup kembali tirai hijau di jendela kamarku, tapi sebelumnya aku sempat melihat kursi yang juga  berwarna hijau di teras kostku. Kamar kostku sebenarnya lebih cocok disebut kamar gadis kecil yang masih  duduk di bangku TK atau SD, karena dinding kamarku dipenuhi dengan kertas origami warna-warni. Ada 2  jendela kaca bertirai hijau yang menghadap teras, dan di kanan teras itulah terdapat sebuah kursi kayu  panjang, kursi yang telah menjadi saksi bisu cerita kita.

Hatiku remuk melihat kursi itu, yang kini tak lagi berpenghuni. Biasanya, pagi-pagi kutemukan dirimu sudah menungguiku di kursi itu. Kamu mengetok jendela kamarku,dan aku keluar bersama gelas keramik putih biru bertuliskan thinking of you. Dan kita siap menikmati susu coklat, teh susu, teh manis atau bahkan hanya air putih, segelas berdua. Romantic sekali!

Siang-siang, pulang kuliah kita nongkrong, dan tempatnya masih sama, di kursi kayu berwarna hijau itu. Waktu itu musim mangga, dan cemilan kita siang itu mangga yang rasanya manis kecut. Kamu kupaskan manga dan memotong-motongnya. Aku suapin sepotong daging mangga ke mulutmu, dan reaksimu berhasil membuatku tertawa sambil memegangi perutku. Masih bisa kubayangkan ekspresimu saat makan mangga yang rasanya kecut, keningmu mengernyit, dan lidahmu itu, kamu keluarkan dan matamu kamu pejamkan. Kamu bela-belain makan buah kecut meskipun kamu benci itu, hanya karena aku suapin kamu.

Ratusan jam telah kita habiskan duduk berdua di kursi itu. Kamu orang yang paling sering datang ke kostku. Pagi-pagi kita sudah duduk di kursi itu, siang-siang kita ngobrol bareng, sore-sore kamu juga samperin aku, dan malam hari, di kursi itu, kamu kecup keningku sebelum kamu pulang. Dan keesokan harinya, aku masih menemukanmu disana, setiap hari.

Kehadiranmu di hari-hariku membuat aku merasa tak ada hal yang perlu aku takutkan saat bersamamu. Karena keindahan cinta diantara kita membuat segala hal rumit terlihat mudah. Aku telah terbiasa memilikimu disisiku. Dan aku benar-benar tak pernah membayangkan hal buruk terjadi diantara kita.
Hari itu awal Desember, dan semuanya baik-baik saja sebelum aku dapat sms dari 1 kontak yang cukup mengejutkanku siang itu. Dia sms aku baik-baik, dan aku juga balas baik-baik. Saat dia tanya aku satu pertanyaan, tentang aku dan kamu, ternyata jawabanku merusak semuanya. Aku hanya mencoba menjawab jujur. Tapi itu akhirnya membuat dia melakukan tindakan yang menurutya benar dan menyelamatkannya. Tapi sebenarnya ia telah menyakiti banyak hati, dan membuatnya tidak bisa mendapatkan cinta yang tulus.

Setelah kejadian siang itu, aku masih sempat bertemu kamu. Tak banyak kata yang terucap dari bibir kita. Hanya air mata dan helaan nafas panjang. Hari itu hari terburuk yang pernah ku alami, mungkin kamu juga merasakan hal yang sama.  Siang itu, aku benar-benar tak kuasa menahan air mata. Kau genggam tanganku, dan itu membuat hatiku semakin sesak. Sempat terfikir, mungkin setelah ini aku tak berhak lagi menggenggam tanganmu, atau bahkan setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi.

Dan setelah hari itu, kita tidak pernah bertemu lagi. Saban hari aku menunggu jendela kamarku diketok, berharap kamu duduk menungguku di kursi itu lagi. Dan saat aku menulis cerita ini, dengan air mata di pipiku, aku percaya kamu pasti kembali. Dan kita akan menghabiskan berjam-jam duduk dan ngobrol di kursi itu lagi.

Hanna
3 Desember 2013

Berteman Bayangmu

Hari ini aku berjalan pagi-pagi sekali.Sebelum fajar bangun.Aku mendaki sebuah bukit yang pernah kita datangi bersama. Langkah demi langkah, ku jejaki bersama bayangmu. Sesaat, kupejamkan mataku. Dan aku merasa seolah kau disisiku, menggenggam tanganku. Langkahku semakin ringan mendaki bukit ini bersama bayangmu yang menggenggam tanganku.
Mentari pagi mulai pancarkan cahayanya saat aku sampai di puncak, Kulayangkan mataku, memandang hijaunya alam yang mengelilingiku. Kulihat "lautan" sawah diantara gunung gemunung di sebrang sana, Lautan sawah itu, kita pernah tuliskan cerita di sana. Dan gunung gemunung itu, kita telah merajut mimpi-mimpi untuk menaklukkannya. Awan putih yang menyelimuti pegunungan antah berantah, senandung lagu cinta yang kita pernah lantukan.
Kembali ku pejamkan mataku, mengingat lagi semua hari-hari dan mimpi-mimpi kita. Air mata basahi pipiku dan terpaan angin kencang menyadarkanku,  bahwa kau tak di sini lagi, bahwa aku hanya berteman bayangmu.

Hanna
Bandungan, 20 Desember 2013

Kamis, 24 Oktober 2013

Lampu Kota-Part II

Menyaksikan lampu kota sendiri, bukanlah hal yang biasa ku lakukan. Lampu kota yang biasa kulihat bersamamu, malam ini harus kusaksikan seorang diri dari ketinggian. Aku menatap jauh kesana, ke tengah kota, dengan sejuta warna yang menghiasinya. Indahnya warna-warninya tetap tak mampu mengalahkan indah cerita kita. Jauh disana, di antara lampu-lampu itu, kita pernah menuliskan cerita.

Aku kini terlelap dalam lamunan tentangmu, dan tiba-tiba kudengar suara. Lampu kota menggodaku, "Hey, warnaku indah, bukan? Kenapa engkau hanya sendiri malam ini, dia dimana? Biasanya kamu bersama dia menatapku, dan kalian tuliskan cerita-cerita indah tentang warna-warni cinta dan lampu kota?"
Aku hanya terdiam mendengar godaan lampu kota, dan aku masih tetap disini menikmati indahnya warna-warni yang di pancarkannya. Disini, di balkon ini, kita pernah menyaksikan lampu kota bersama. Dan malam ini ku titipkan kisah yang akan diabadikan oleh indahnya lampu kota. Kisah tentang kita, tentang perjalanan hidup yang kita lalui, suka duka, canda tawa, air mata dan juga cinta. Dan biarkan semua orang menikmati indanhya warna-warni cinta yang dipancarkan lampu kota.


Hanna
October, 2013